
Guluk-Guluk, MASA.SCH.ID
KH. Muhammad Ali Fikri, M.Pd.I, Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk Sumenep menegaskan bahwa mempertahankan moral di era digital menjadi tantangan besar bagi generasi muda, khususnya para santri.
Hal itu disampaikannya saat mengisi meteri dengan tema “Mempertahankan Moral di Era Digital” dalam kegiatan Remedial Enrichment Siswa Kelas Akhir (SISKA) Madrasah Aliyah (MA) 1 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, Senin (11/05/2026) di Aula MA 1 Annuqayah.
Menurutnya, perkembangan teknologi harus diimbangi dengan penguatan akhlak, prinsip hidup, serta kemampuan menjaga diri dari pengaruh negatif media digital. Ia mengingatkan agar para siswa tidak mudah terpengaruh oleh budaya dan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai pesantren.
“Teknologi boleh berkembang, tetapi moral dan akhlak harus tetap dijaga. Santri harus mampu menggunakan teknologi dengan bijak tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai kepesantrenannya,” dawuh beliau di hadapan SISKA MA 1 Annuqayah.
Kiai Ali Fikri mengingatkan kepada para siswa agar senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT, terutama kesempatan untuk belajar dan menempuh pendidikan di pesantren dan madrasah.
“Tidak semua orang punya kesempatan sekolah dan belajar seperti kalian. Karena itu, nikmat ini harus disyukuri,” terangnya.
Ia juga menjelaskan bahwa manusia menjadi makhluk terbaik karena dianugerahi akal dan hati. Menurutnya, kedua hal tersebut harus terus diasah melalui ilmu, ibadah, dan akhlak yang baik agar manusia tidak kehilangan kemuliaannya.
“Akal dan hati itu yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Kalau tidak diasah, manusia bisa lebih hina daripada binatang,” tuturnya.
Selain itu, Ia juga menekankan pentingnya menjaga akhlak secara konsisten, tidak hanya ketika berada di hadapan guru atau di dalam kelas saja. Menurutnya, sikap baik yang hanya ditunjukkan di depan orang lain termasuk perilaku yang harus dihindari.
“Akhlak itu bukan hanya saat berhadapan dengan guru atau di kelas. Kalau baiknya hanya di depan orang, itu termasuk sifat munafik,” ungkap beliau.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Ali Fikri menjelaskan bahwa akhlak tidak hanya berkaitan dengan hubungan kepada Allah SWT dan sesama manusia, tetapi juga kepada diri sendiri. Salah satunya dengan menjaga kesehatan dan merawat diri sebagai bentuk tanggung jawab pribadi.
Ia juga mengingatkan para siswa, khususnya yang berada di jurusan IPA, agar tidak melupakan ilmu agama. Menurutnya, setiap pelajar tetap harus memiliki dasar pengetahuan agama yang baik meskipun menempuh bidang ilmu umum.
“Jangan sampai karena masuk jurusan IPA lalu merasa tidak perlu memahami ilmu agama. Semua ilmu harus berjalan seimbang,” katanya.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa ketika hidup di tengah masyarakat, para siswa akan menemukan banyak hal yang bertentangan dengan nilai-nilai pesantren. Oleh karena itu, para santri harus memiliki prinsip hidup yang kuat sesuai ajaran yang diperoleh selama mondok.
“Nanti di masyarakat akan banyak hal yang kontradiktif dengan apa yang diajarkan di pondok. Karena itu, kalian harus punya prinsip,” pesannya.
Kiai Ali Fikri juga berpesan kepada para siswa yang akan melanjutkan kuliah di luar lingkungan Annuqayah agar tetap menjaga nama baik almamater dan perilaku sebagai santri.
“Ke mana pun kalian pergi, jaga nama baik pesantren dan madrasah. Jangan sampai melakukan hal-hal yang menimbulkan penilaian negatif,” dawuhnya.
Menurutnya, perilaku yang buruk dikhawatirkan dapat menghilangkan keberkahan dari para masyayikh dan guru yang selama ini mendidik para santri.
Selain itu, Guru MA 1 Annuqayah ini juga mengingatkan agar para siswa tidak bersikap “cul ngacul” atau semaunya sendiri ketika hidup di tengah masyarakat. Santri, menurutnya, harus siap menerima tanggung jawab dan memiliki keterampilan yang dapat bermanfaat bagi lingkungan sekitar.
“Kalau diberi tanggung jawab jangan mundur. Santri harus punya keterampilan dan siap mengabdi di masyarakat,” ujarnya.
Pada akhir penyampaian, Kiai Ali Fikri mengingatkan para siswa tentang kematian yang dapat datang kapan saja. Karena itu, setiap orang harus selalu berusaha memperbaiki diri dan memastikan hidupnya berada dalam kebaikan.
“Kematian bisa datang kapan saja. Kalau melakukan kesalahan, segera bertaubat dan kembali kepada Allah SWT,” pungkasnya.
Editor: Lukmanul Hakim





