
Guluk-Guluk, MASA.SCH.ID
K. M. Faizi, M.Hum. Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Al-Furqaan Guluk-Guluk Sumenep menjelaskan bahwa pemahaman ke-Aswajaan dan Ke-Annuqayahan menjadi pondasi penting bagi santri dalam menjalani kehidupan beragama dan bermasyarakat.
Hal tersebut disampaikannya saat mengisi materi bertema “Ke-Aswajaan dan Ke-Annuqayahan” dalam kegiatan Remedial Enrichment Siswa Kelas Akhir (SISKA) Madrasah Aliyah (MA) 1 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, Kamis (14/05/2026) di Aula MA 1 Annuqayah.
Menurutnya, Aswaja merupakan manhaj atau cara berpikir keagamaan yang mengedepankan sikap moderat, seimbang, dan toleran.
“Karakteristik Aswaja itu tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal. Artinya, kita diajarkan untuk bersikap moderat, seimbang, toleran, dan adil dalam melihat persoalan,” ujarnya di hadapan SISKA MA 1 Annuqayah.
Ia menjelaskan bahwa sikap tersebut menjadi ciri penting Ahlussunnah wal Jamaah dalam menghadapi berbagai perbedaan di tengah masyarakat.
Dengan prinsip tersebut, santri diharapkan mampu menjaga persatuan dan tidak mudah terjebak pada sikap ekstrem.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai M. Faizi juga membahas perbedaan antara Aswaja dengan kelompok-kelompok lain. Menurutnya, Aswaja mengajarkan keseimbangan antara dalil agama, akal, tradisi, dan realitas sosial dalam kehidupan sehari-hari.
“Aswaja tidak mudah menyalahkan orang lain dan tidak gampang merasa paling benar sendiri. Ada tradisi musyawarah, penghormatan kepada ulama, dan sikap bijak dalam menyikapi perbedaan,” tuturnya.
Ia mengingatkan para siswa agar tetap berpegang pada nilai-nilai Aswaja ketika hidup di tengah masyarakat, terutama di era digital yang dipenuhi berbagai informasi dan perdebatan keagamaan.
“Santri harus punya prinsip dan dasar keilmuan yang kuat agar tidak mudah terpengaruh oleh pemikiran yang ekstrem atau provokatif,” katanya.
Selain membahas ke-Aswajaan, ia juga menjelaskan tradisi ma’ruf yang berkembang di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah. Tradisi tersebut, menurut beliau, menjadi identitas sekaligus warisan para masyayikh yang harus dijaga oleh generasi santri.
“Tradisi di Annuqayah bukan hanya kebiasaan, tetapi bagian dari pendidikan karakter dan pembentukan adab santri,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa nilai-nilai seperti penghormatan kepada guru, kebiasaan musyawarah, gotong royong, serta menjaga hubungan baik dengan sesama merupakan bagian penting dari tradisi kepesantrenan Annuqayah.
Dalam penyampaiannya, beliau juga memaparkan berbagai fan kitab yang dipelajari di Pondok Pesantren Annuqayah. Mulai dari ilmu nahwu, sharraf, fiqih, ushul fiqih, tafsir, hadits, tasawuf, hingga ilmu balaghah, dan mantiq.
“Annuqayah memiliki tradisi keilmuan yang luas. Santri tidak hanya belajar satu bidang, tetapi banyak cabang ilmu yang menjadi bekal dalam memahami agama secara mendalam,” jelasnya.
Ia berharap para siswa kelas akhir tetap menjaga identitas ke-Annuqayahan setelah lulus dari madrasah dan pesantren.
“Ke mana pun kalian pergi, jangan lupakan nilai-nilai Aswaja dan tradisi Annuqayah. Itu yang menjadi identitas dan pegangan hidup santri,” pesannya.
Suasana penyajian berlangsung hangat dan penuh perhatian. Para siswa tampak serius menyimak materi yang disampaikan, terutama ketika beliau menjelaskan sejarah dan tradisi keilmuan di Pondok Pesantren Annuqayah.
Editor: Lukmanul Hakim





