
Guluk-Guluk, MASA.SCH.ID
Ketekunan mengajar dan semangat menulis kitab menjadi dua hal yang melekat pada diri Ust. Abd. Aziz, guru di Madrasah Aliyah (MA) 1 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep.
Di tengah kesibukannya membimbing santri di berbagai lembaga pendidikan pesantren, ia tetap produktif melahirkan karya-karya ilmiah berbahasa Arab dan Indonesia sebagai sarana mempermudah santri memahami ilmu nahwu dan sharraf.
Bagi kalangan santri dan guru di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, nama Ust. Abd. Aziz bukanlah sosok asing.
Ia dikenal sederhana dalam kehidupan sehari-hari, tetapi memiliki semangat besar dalam mengabdi kepada ilmu dan pendidikan.
Hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk mengajar, membimbing santri, menghadiri forum kajian, hingga menyusun kitab-kitab pembelajaran.
Kesibukan tersebut tidak membuatnya berhenti berkarya. Justru dari rutinitas mengajar itulah lahir berbagai kitab yang disusun untuk membantu santri memahami ilmu nahwu dan sharraf secara lebih mudah dan sistematis.
“Menulis kitab itu sebenarnya berangkat dari kebutuhan pembelajaran. Kadang ada santri yang merasa kesulitan memahami materi tertentu, sehingga saya mencoba menyusun penjelasan yang lebih sederhana dan mudah dipahami,” ujar Ust. Abd. Aziz saat ditemui di sela-sela aktivitas mengajarnya, Rabu (13/05/2026).
Ia menuturkan bahwa proses penulisan kitab tidak selalu dilakukan dalam suasana tenang dan longgar. Banyak bagian kitab yang justru ditulis di tengah kesibukan mengajar dan mendampingi santri.
“Kadang menulisnya malam hari setelah selesai mengajar, kadang juga setelah subuh. Yang penting istiqamah sedikit demi sedikit. Saya yakin kalau diniatkan untuk khidmah, Allah SWT akan memudahkan,” katanya.
Sejumlah kitab telah berhasil ia lahirkan. Dalam bidang ilmu nahwu tingkat menengah, ia menyusun kitab Inkisyaful Afkar Fi Tarjamah Nadhmul Imrity.
Kitab tersebut menjadi salah satu referensi belajar santri dalam memahami nadham Imrithi dengan pendekatan yang lebih sederhana dan aplikatif.
Selain itu, ia juga menulis kitab Ifhamul Quyud Linaylil Maqshud yang membahas ilmu sharraf tingkat menengah. Kitab tersebut disusun untuk membantu santri memahami perubahan bentuk kata dalam bahasa Arab secara lebih terarah.
Pada tingkat dasar, Ust. Abd. Aziz menyusun kitab Mukhtashar Al-Jumal Fi Tarjamah Al-Ajurumiyah dalam bidang nahwu dan kitab At-Ta’arif Fi At-Tashrif dalam bidang sharraf.
Kedua kitab tersebut banyak digunakan sebagai pengantar awal bagi santri pemula dalam memahami ilmu alat.
Sementara untuk tingkat lanjutan, ia menulis kitab Iradatul Jazilah Lifahmil Al-Fiyah jilid 1 dan jilid 2 sebagai panduan memahami kitab Al-Fiyah Ibnu Malik yang dikenal cukup kompleks bagi sebagian santri.
Menurutnya, penulisan kitab tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga tradisi keilmuan pesantren agar tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.
“Pesantren itu kuat karena tradisi ilmunya. Kalau guru-guru berhenti menulis dan mengembangkan bahan pembelajaran, maka khazanah keilmuan pesantren juga akan berkurang. Karena itu saya ingin ikut menjaga tradisi tersebut meskipun dengan kemampuan yang terbatas,” ungkapnya.
Semangat menulis itu ternyata belum berhenti. Saat ini, ia tengah mempersiapkan penulisan kitab Iradatul Jazilah Lifahmil Al-Fiyah jilid 3 dan jilid 4 untuk melanjutkan pembahasan ilmu nahwu tingkat atas.
“Insyaallah ada rencana melanjutkan jilid berikutnya. Mudah-mudahan diberi kesehatan dan kekuatan agar bisa selesai dan memberikan manfaat yang lebih luas,” tuturnya.
Selain aktif menulis, Ust. Abd. Aziz juga dikenal sebagai sosok pengabdi sejati dalam dunia pendidikan pesantren.
Aktivitas mengajarnya tersebar di berbagai lembaga pendidikan di lingkungan pesantren dan madrasah.
Ia mengajar di MD. BTT PP. Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk Sumenep, MD. BAW PP. Annuqayah Lubangsa Putri Guluk-Guluk Sumenep, serta MD. Khairul Wira’i PP. Nurul Yaqin dan MTs Nurul Yaqin Lembung Barat Lenteng Sumenep.
Di MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, ia tidak hanya mengajar di kelas formal, tetapi juga aktif membimbing kajian kitab bagi siswa jurusan keagamaan.
Bahkan, di luar jam sekolah, dirinya masih meluangkan waktu untuk mendampingi santri dalam memahami kitab-kitab turats.
Ia juga aktif membimbing anggota Jam’iyah Ta’miq Al-Kutub PP. Annuqayah Lubangsa Putri Guluk-Guluk. Forum tersebut menjadi ruang pengembangan intelektual santri dalam memperdalam pemahaman kitab kuning.
Tidak hanya itu, Ust. Abd. Aziz juga membuka bimbingan belajar kitab secara mandiri bersama teman sejawat, alumni, dan santri.
Kegiatan tersebut kerap dilaksanakan di rumahnya maupun berpindah-pindah tempat sesuai kebutuhan dan kesepakatan peserta.
Salah satu rekan guru di MA 1 Annuqayah Bapak Mahrus menyebut bahwa Ust. Abd. Aziz merupakan figur guru yang sangat istiqamah dalam pengabdian.
“Beliau hampir tidak pernah lelah mengajar. Dari pagi sampai malam waktunya banyak dihabiskan bersama santri. Yang membuat kami kagum, di tengah kesibukan itu beliau masih sempat menulis kitab. Ini sesuatu yang luar biasa,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan salah satu santri bimbingannya Muhammad Azam Azhari. Menurutnya, Ust. Abd. Aziz dikenal sebagai guru yang sabar dan telaten dalam menjelaskan pelajaran.
“Kalau mengajar, beliau tidak hanya menjelaskan materi, tetapi juga memastikan santri benar-benar paham. Beliau sering mengulang penjelasan sampai kami mengerti,” katanya.
Bagi Ust. Abd. Aziz, mengajar bukan sekadar profesi, melainkan bagian dari ibadah dan pengabdian hidup. Ia meyakini bahwa ilmu akan lebih berkah apabila diajarkan dengan ikhlas dan penuh kesabaran.
“Menjadi guru pesantren itu bukan soal besar kecilnya penghargaan, tetapi bagaimana kita bisa bermanfaat untuk santri dan masyarakat. Selama masih diberi kesehatan, saya ingin terus mengajar dan menulis,” tuturnya.
Keteladanan Ust. Abd. Aziz menjadi bukti bahwa tradisi intelektual pesantren masih terus hidup melalui tangan para guru yang tulus mengabdi.
Dari ruang kelas sederhana hingga lembaran kitab yang ditulisnya, pengabdian itu terus mengalir menjadi cahaya ilmu bagi para santri, alumni, dan masyarakat luas.
Di tengah perkembangan zaman yang serba cepat, sosok seperti Ust. Abd. Aziz menghadirkan inspirasi bahwa pengabdian, ketekunan, dan kecintaan terhadap ilmu tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlangsungan tradisi pesantren.
Editor: Lukmanul Hakim





