KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits Ulas Empat Prinsip Pendidikan ala Nabi Adam AS

Guluk-Guluk, MASA.SCH.ID

Dr. KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, M.Hum Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep menjelaskan bahwa kisah Nabi Adam AS bukan sekadar cerita sejarah, tetapi mengandung prinsip-prinsip pendidikan dan kehidupan yang sangat relevan sepanjang zaman.

Hal tersebut disampaikannya saat mengisi pengajian rutin bulanan Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Kecamatan Bluto di Pakandangan Barat, Bluto, Ahad (31/05/2026).

Tausiyah tersebut disampaikan dengan pendekatan reflektif dan menyentuh kehidupan rumah tangga, pendidikan, hingga kehidupan sosial masyarakat.

Kiai Mamak sapaan akrabnya, memulai dengan menggambarkan suasana surga yang penuh ketenangan, kedamaian, dan tanpa pertengkaran. Namun, menurutnya, ketenangan itu memiliki syarat dan tanggung jawab yang harus dijaga.

Ia menyoroti firman Allah SWT kepada Nabi Adam dengan kata “uskun” yang berarti tinggallah, diamlah, atau tenangkanlah. Menurutnya, pesan tersebut ditujukan kepada Nabi Adam AS sebagai kepala keluarga, bukan kepada Hawa.

“Prinsip pertama menunjukkan bahwa ketenangan rumah tangga bertumpu pada suami. Suami menjadi pilar utama dalam menciptakan ketenangan keluarga,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa ketika seorang suami mengenal Allah SWT dengan baik, maka ketenangan itu akan memancar kepada seluruh anggota keluarga. Anak-anak akan tumbuh dengan tenang, dan istri akan merasakan kedamaian dalam rumah tangga.

Prinsip kedua yang dijelaskan Kiai Mamak adalah tentang pentingnya menjaga diri dari larangan sejak awal. Ia mencontohkan larangan Allah SWT kepada Nabi Adam dan Hawa untuk tidak mendekati pohon terlarang di surga.

Menurutnya, Allah SWT tidak hanya melarang memakan buah dari pohon tersebut, tetapi juga melarang mendekatinya. Hal itu menunjukkan bahwa pencegahan terhadap kemaksiatan harus dimulai dari langkah paling awal.

“Segala sesuatu yang mengarah pada kemaksiatan harus dijauhi sejak awal, baik gambar, tulisan, pergaulan, maupun hal-hal yang membuka pintu pelanggaran,” katanya.

Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk ini menegaskan bahwa banyak manusia jatuh bukan karena dosa besar secara tiba-tiba, tetapi karena terbiasa mendekati hal-hal yang dilarang sedikit demi sedikit.

“Setan bekerja secara pelan. Ia tidak selalu menggoda dengan cara besar, tetapi melalui kebiasaan kecil yang terus diulang,” jelasnya.

Prinsip ketiga yang disampaikan adalah bahwa kedekatan dengan larangan menjadi awal kehancuran dan keguncangan hidup manusia. Ketika Nabi Adam dan Hawa tergelincir, ketenangan yang sebelumnya ada menjadi berubah.

Dosen Universitas Annuqayah Guluk-Guluk ini menggambarkan bahwa ketika manusia jauh dari petunjuk Allah SWT, hubungan keluarga dan sosial juga ikut terguncang. Perselisihan, pertengkaran, hingga hilangnya keharmonisan menjadi dampak yang sulit dihindari.

“Ketenangan itu bisa dibangun, tetapi juga bisa runtuh karena pilihan manusia sendiri,” tuturnya.

Meski demikian, Kiai Mamak menegaskan bahwa Allah SWT tidak pernah menutup pintu taubat bagi hamba-Nya. Hal itu menjadi prinsip keempat dalam pendidikan ala Nabi Adam.

Menurutnya, taubat bukan sekadar meminta maaf, tetapi mengakui kesalahan, memperbaiki diri, dan bersungguh-sungguh agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

“Orang baik bukan orang yang tidak pernah salah, tetapi orang yang ketika salah segera bangkit dan kembali kepada Allah,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa rasa khawatir apakah taubat diterima atau tidak justru menjadi tanda kesungguhan seseorang dalam memperbaiki diri.

Di akhir pengajiannya, Kiai Mamak menegaskan bahwa empat prinsip pendidikan dari kisah Nabi Adam tersebut tidak hanya berlaku dalam rumah tangga, tetapi juga dalam dunia pendidikan, lingkungan sekolah, dan kehidupan masyarakat secara umum.

“Empat prinsip ini berlaku di mana saja manusia hidup bersama. Tinggal bagaimana kita menjaga ketenangan itu agar tidak runtuh oleh kesalahan kita sendiri,” pungkasnya.

Editor: Lukmanul Hakim

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *