
Guluk-Guluk, MASA.SCH.ID
K. M. Mushthafa, M.A. Wakil Rektor IV Universitas Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep menuturkan bahwa peluang santri untuk melanjutkan pendidikan hingga ke luar negeri semakin terbuka lebar melalui berbagai program beasiswa internasional.
Hal tersebut disampaikannya dalam penyajian materi bertema “Santri Mendunia” pada kegiatan Remedial Enrichment Siswa Kelas Akhir (SISKA) Madrasah Aliyah (MA) 1 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, Rabu (13/05/2026) di Aula MA 1 Annuqayah.
Dalam kegiatan yang diikuti oleh seluruh siswa kelas akhir tersebut, Kiai Mushthafa mengajak para santri untuk memiliki keberanian bermimpi besar dan mempersiapkan diri sejak dini apabila ingin melanjutkan studi ke luar negeri.
Pada awal penyampaiannya, ia menegaskan bahwa kemampuan bahasa asing menjadi salah satu syarat penting bagi santri yang ingin menempuh pendidikan internasional.
“Kalau ingin kuliah ke luar negeri, kemampuan bahasa asing harus dipersiapkan sejak sekarang. Jangan menunggu lulus baru belajar,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa bahasa asing, terutama bahasa Arab dan bahasa Inggris, menjadi bekal utama dalam menghadapi dunia pendidikan global. Dengan kemampuan bahasa yang baik, para santri akan lebih mudah beradaptasi dan mengikuti proses akademik di luar negeri.
Selain kemampuan bahasa, beliau juga menekankan pentingnya keterampilan dan kemampuan diri yang harus terus diasah secara matang.
“Tidak cukup hanya pintar secara akademik. Keterampilan juga harus dipersiapkan, karena dunia luar membutuhkan orang-orang yang kreatif, disiplin, dan mampu beradaptasi,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Mushthafa juga membahas pentingnya kesiapan mental bagi santri yang ingin belajar di luar negeri. Menurutnya, para mahasiswa akan menghadapi berbagai perbedaan budaya, tradisi, dan lingkungan sosial yang jauh berbeda dengan kehidupan di pesantren maupun di Indonesia.
“Kesiapan mental itu penting. Tinggal di luar negeri berarti harus siap menghadapi ragam budaya dan tradisi yang berbeda,” katanya.
Ia menambahkan bahwa banyak mahasiswa Indonesia yang membutuhkan waktu cukup lama untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan baru di luar negeri.
“Kadang ada yang butuh waktu berbulan-bulan bahkan hampir setahun untuk benar-benar bisa beradaptasi dengan lingkungan dan budaya yang baru,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa peluang kuliah ke luar negeri saat ini semakin luas karena banyaknya program beasiswa yang tersedia bagi pelajar Indonesia.
“Sekarang peluang semakin banyak. Ada LPDP, Ford Foundation, program beasiswa Uni Eropa, dan berbagai beasiswa lainnya yang bisa dimanfaatkan,” ungkapnya.
Menurutnya, para santri memiliki kesempatan yang sama untuk bersaing mendapatkan beasiswa apabila mempersiapkan diri dengan baik sejak dini.
“Santri jangan minder. Banyak santri yang sekarang bisa kuliah di luar negeri dan berhasil bersaing di tingkat internasional,” pesannya.
Kiai Mushthafa juga menjelaskan bahwa pengalaman internasional dapat memberikan pengaruh besar terhadap cara pandang seseorang dalam melihat dunia, pendidikan, dan kehidupan sosial.
“Pengalaman belajar di luar negeri bisa mengubah cara pandang kita. Kita akan belajar menghargai perbedaan, disiplin, dan cara berpikir yang lebih luas,” tuturnya.
Pada akhir penyampaian, ia mendorong para siswa untuk terus belajar, meningkatkan kemampuan diri, dan tidak takut memiliki cita-cita besar.
“Mulailah mempersiapkan diri dari sekarang. Jangan takut bermimpi tinggi, karena kesempatan itu terbuka bagi siapa saja yang mau berusaha,” pungkasnya.
Editor: Lukmanul Hakim





