
Guluk-Guluk, MASA.SCH.ID
Dr. K. Zamzami Sabiq, S.Psi., M.Psi. Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Nasyrul Ulum Aengdake, Bluto, Sumenep mengatakan bahwa potensi diri menjadi bekal utama dalam menentukan pilihan kampus dan meniti karir di masa depan.
Hal itu disampaikannya saat menyampaikan materi bertema “Bimbingan Karir dan Memilih Kampus” pada kegiatan Remedial Enrichment Siswa Kelas Akhir (SISKA) Madrasah Aliyah (MA) 1 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, Selasa (12/5/2026) di Aula MA 1 Annuqayah.
Kegiatan yang diikuti oleh seluruh SISKA MA 1 Annuqayah tersebut berlangsung dengan semangat dan antusias.
Pada awal materi, Kiai Zamzami menjelaskan bahwa potensi diri dapat dikenali melalui tiga hal utama, yakni bakat, minat, dan nilai hidup. Ketiganya, menurut beliau, harus berjalan secara seimbang agar seseorang mampu menentukan masa depannya dengan tepat.
“Bakat dan minat itu harus seimbang. Kalau hanya berbakat tapi tidak berminat, hasilnya tidak maksimal. Begitu juga kalau berminat tetapi tidak memiliki bakat yang mendukung, akan terasa berat. Di atas itu semua, ada nilai hidup yang harus menjadi prioritas,” jelasnya di hadapan SISKA MA 1 Annuqayah.
Wakil Ketua PCNU Sumenep ini juga menerangkan bahwa nilai hidup merupakan prinsip yang diyakini seseorang dan menjadi dasar dalam mengambil keputusan penting, termasuk memilih jurusan kuliah dan karir.
“Jangan hanya bertanya jurusan ini menjanjikan atau tidak, tetapi tanyakan juga apakah ini sesuai dengan nilai hidup yang kalian pegang,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga memaparkan ciri-ciri seseorang yang sedang menjalani potensinya. Menurutnya, seseorang yang berada pada bidang yang sesuai dengan potensinya akan merasa bersemangat, senang melakukannya, dan cenderung lebih cepat menguasainya dibanding orang lain.
“Kalau kalian merasa senang mengerjakannya, tidak mudah bosan, bahkan cepat memahami dibanding teman-teman lain, bisa jadi itu bagian dari potensi diri kalian,” katanya.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan beberapa cara untuk memahami potensi diri. Di antaranya melalui umpan balik dari orang tua dan guru, pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari, serta melalui psikotes minat dan bakat.
“Kadang orang lain lebih mudah melihat potensi kita daripada diri kita sendiri. Karena itu, dengarkan masukan dari orang tua, guru, dan orang-orang terdekat,” ujarnya.
Dalam sesi tersebut, Kiai Zamzami juga memberikan sejumlah tips kepada para siswa dalam mempersiapkan diri menuju dunia perkuliahan. Ia mengingatkan agar para siswa memahami suara hati mereka sendiri, mengenali minat dan bakat, serta tidak mudah terpengaruh pilihan orang lain.
“Jangan memilih jurusan hanya karena ikut teman. Masa depan itu kalian yang menjalani, bukan teman kalian,” tegasnya.
Dosen Prodi Tasawuf dan Psikoterapi Universitas Annuqayah Guluk-Guluk ini mengungkapkan bahwa banyak mahasiswa yang merasa salah memilih jurusan setelah memasuki bangku kuliah.
“Sekitar 75 persen mahasiswa mengaku pernah merasa salah jurusan. Ini terjadi karena sejak awal tidak mengenali dirinya sendiri,” jelasnya.
Karena itu, ia mendorong para siswa untuk menuliskan rencana masa depan secara jelas dan mendiskusikannya dengan orang-orang yang memiliki keahlian di bidang tersebut.
“Tulis cita-cita kalian. Diskusikan dengan guru, orang tua, atau konselor. Jangan membuat keputusan besar sendirian tanpa pertimbangan matang,” pesannya.
Selain itu, ia juga mengingatkan agar siswa mempertimbangkan kemampuan finansial keluarga saat memilih kampus.
“Pilih kampus yang sesuai kemampuan. Jangan memaksakan sesuatu yang justru memberatkan keluarga. Kesuksesan tidak ditentukan oleh kampus yang mahal, tetapi oleh kesungguhan belajar,” pungkasnya.
Editor: Lukmanul Hakim





