
Guluk-Guluk, MASA.SCH.ID
Pertemuan wali santri yang digelar pada Jum’at (13/02/2026) di Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Utara Guluk-Guluk Sumenep menghadirkan pesan penting dari KH. M. Afif Hasan, Dewan Pengasuh PP. Annuqayah Lubangsa Utara.
Dalam arahannya, beliau menegaskan bahwa masa liburan menjadi fase krusial yang menentukan keberlanjutan pendidikan karakter santri di rumah.
“Kebaikan anak yang dibangun berbulan-bulan di pesantren bisa hancur hanya dalam beberapa hari liburan kalau orang tua lengah,” dawuh beliau di hadapan para wali santri.
Menurutnya, liburan kerap dipahami anak sebagai kebebasan tanpa batas. Jika di pesantren santri hidup dalam disiplin aturan, maka setibanya di rumah suasana cenderung lebih longgar.
Padahal, kebiasaan baik yang baru terbentuk masih dalam tahap penguatan dan belum sepenuhnya kokoh.
Beliau mengibaratkan kondisi tersebut seperti seseorang yang berusaha berhenti merokok, namun kembali ke lingkungan lama yang masih mempraktikkan kebiasaan tersebut. Godaan menjadi sangat kuat, dan tanpa pengawasan yang tepat, kebiasaan lama mudah kembali.
Dalam kesempatan itu, KH. M. Afif Hasan menekankan empat hal utama yang perlu mendapat perhatian serius dari orang tua selama masa liburan.
Pertama, rokok. Remaja merupakan kelompok usia yang sangat mudah terpengaruh lingkungan pertemanan.
Beliau mengingatkan agar orang tua tidak menganggap remeh persoalan ini. Ketahanan santri untuk tidak merokok selama di pesantren bisa runtuh hanya karena pergaulan beberapa hari.
Kedua, bahasa. Kesopanan berbahasa, termasuk penggunaan bahasa Madura kepada orang tua, merupakan bagian dari pendidikan akhlak yang ditanamkan di pesantren.
Orang tua diharapkan ikut memantau sekaligus mendukung agar kebiasaan baik tersebut tetap terjaga.
Ketiga, pergaulan. Orang tua diminta untuk lebih selektif dalam memberikan izin kepada anak. Pertanyaan sederhana seperti mau ke mana, bersama siapa, dan pulang jam berapa dinilai sebagai bentuk kepedulian, bukan pembatasan berlebihan.
Beliau mengingatkan bahwa kebiasaan nongkrong tanpa tujuan jelas berpotensi menjadi pintu masuk berbagai perilaku negatif.
Keempat, lawan jenis. Dalam hal ini, orang tua diharapkan berani bersikap bijak dan proporsional. Jika terjadi interaksi yang berpotensi menimbulkan fitnah atau melampaui batas kewajaran, orang tua diminta menyikapinya dengan sopan namun tegas.
“Bukan su’udzon, tetapi menjaga kehormatan,” tegas Kiai Afif Hasan yang juga merupakan Dosen Universitas Annuqayah Guluk-Guluk ini.
Selain empat hal tersebut, KH. M. Afif Hasan juga menyoroti penggunaan handphone yang kini menjadi tantangan tersendiri. Akses digital tanpa batas memungkinkan anak terpapar berbagai konten yang tidak sesuai dengan nilai-nilai pesantren.
Solusi yang ditawarkan bukan pelarangan total, melainkan pengawasan yang proporsional. Orang tua dianjurkan membatasi waktu penggunaan, sesekali memeriksa konten yang diakses, serta membangun komunikasi terbuka agar anak merasa nyaman berdialog.
Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa orang tua merupakan benteng utama selama masa liburan. Menjaga anak bukan berarti mengurung, melainkan memastikan anak tetap dapat bermain dan bersosialisasi dalam lingkungan yang aman dan sehat.
Pertemuan tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan santri tidak berhenti di pesantren. Rumah tetap menjadi sekolah pertama, sementara orang tua adalah pendidik utama. “Liburan anak bukan berarti liburan orang tua dari tanggung jawab,” pesan beliau.
Anak telah berjuang berbulan-bulan membangun kebiasaan baik. Kini, giliran keluarga menjaga, merawat, dan memperkuatnya. Empat hal yang ditekankan: rokok, bahasa, pergaulan, dan lawan jenis serta pengawasan penggunaan handphone menjadi amanah bersama.
Sebuah tugas yang mungkin terasa berat, namun bernilai besar bagi masa depan anak.
Penulis: Habibullah Salman
Editor: Lukmanul Hakim





