Lebih dari Dua Dekade Mengajar, Inilah Sosok Guru Favorit MA 1 Annuqayah

Guluk-Guluk, MASA.SCH.ID

Sosok Bapak Amiruddin menjadi figur yang tak asing di lingkungan Madrasah Aliyah (MA) 1 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep. Guru senior ini kembali terpilih sebagai guru favorit selama dua kali berturut-turut, sebuah capaian yang mencerminkan dedikasi, konsistensi, dan kecintaannya pada dunia pendidikan.

Bapak Amiruddin mulai mengabdikan diri sebagai pendidik di MA 1 Annuqayah sejak tahun 1998. Ia datang mengajar atas suruhan langsung almarhum KH. A. Warits Ilyas, dengan amanah mengampu mata pelajaran Ilmu Hadits dan Geografi. Beliau hari ini mengampu mapel Fiqih.

Hingga kini, lebih dari dua dekade ia tetap istiqamah membersamai santri dalam proses belajar.

Dalam refleksinya, Bapak Amiruddin membandingkan karakter santri dulu dan sekarang. Menurutnya, santri generasi awal memiliki semangat intelektual yang kuat.

“Santri dulu itu lebih sungguh-sungguh belajarnya. Hampir di setiap materi ada musyawarah kelompok, diskusi hidup, dan semangat mencari pemahaman,” ungkapnya.

Ia menilai, kondisi tersebut agak sulit ditemukan pada santri saat ini. “Sekarang, meniru semangat belajar santri dulu itu agak berat. Tantangannya lebih banyak,” lanjutnya.

Tak hanya dari sisi intelektual, perubahan juga terlihat pada aspek sikap dan adab. Ia mengenang bagaimana ta’dhim santri tempo dulu begitu terasa.

“Santri dulu sangat ta’dhim kepada guru. Sekarang, adab itu tidak sekuat dulu,” tuturnya dengan nada reflektif.

Terpilihnya Bapak Amiruddin sebagai guru favorit dua kali berturut-turut tak lepas dari metode mengajar khas yang ia terapkan.

Ia lebih menekankan keseimbangan antara teori dan praktik. “Materi itu harus dipraktikkan. Jadi di kelas, praktiknya lebih banyak,” jelasnya.

Selain itu, ia dikenal mampu menguasai kelas dengan baik, menyelipkan ice breaking, dan memperhatikan kondisi siswa secara personal.

“Kalau ada siswa tidur, itu justru saya perhatikan. Jangan sampai belajar jadi beban,” katanya.

Dalam mengajar, ia juga tidak terpaku duduk di kursi. “Saya lebih sering berdiri sambil menjelaskan, supaya kelas hidup. Belajarnya juga tidak terlalu serius, harus ada candanya,” tambahnya.

Di akhir perbincangan, Bapak Amiruddin menyampaikan harapannya kepada para siswa MA 1 Annuqayah ke depan.

“Santri harus semangat belajar, biasakan musyawarah, dan jangan tidur saat pelajaran,” pesannya.

Dedikasi panjang, keteladanan sikap, serta metode mengajar yang humanis menjadikan Bapak Amiruddin bukan hanya guru favorit, tetapi juga teladan bagi generasi pendidik di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah.

Keteladanan Bapak Amiruddin dalam dunia pendidikan tidak lepas dari pengalaman pribadinya ketika masih mondok.

Sejak menjadi santri, ia dikenal sebagai pribadi yang tekun belajar, giat, dan penuh semangat. Dalam kesehariannya, ia termasuk santri yang kerja keras dan rajin bersekolah, serta tidak mudah menyerah dalam menuntut ilmu.

“Sejak mondok dulu, saya memang membiasakan diri untuk sungguh-sungguh belajar dan disiplin. Ilmu itu tidak datang kalau tidak dikejar,” kenangnya.

Tak hanya unggul secara akademik, Bapak Amiruddin juga aktif dalam kepengurusan pesantren. Ia pernah dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Pengurus Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa, Guluk-Guluk, Sumenep.

Pengalaman berorganisasi tersebut membentuk karakter kepemimpinan, tanggung jawab, serta kedekatannya dengan sesama santri.

Pengalaman sebagai santri sekaligus pengurus pesantren inilah yang kemudian memengaruhi cara pandangnya dalam mendidik. Ia tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan etos belajar, kedisiplinan, musyawarah, dan adab kepada para siswa.

Editor: Lukmanul Hakim

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *