Di Balik Guru Favorit MA 1 Annuqayah, Dedikasi dan Inovasi Pembelajaran Berbasis Sains

Guluk-Guluk, MASA.SCH.ID

Konsistensi dalam mengajar dan komitmen mengembangkan inovasi pembelajaran berbasis sains di lingkungan pesantren mengantarkan Bapak Rahmat Syarifullah terpilih sebagai guru favorit MA 1 Annuqayah selama tiga kali berturut-turut.

Prestasi ini menjadi bukti kepercayaan dan apresiasi siswa atas dedikasi yang terus ia jaga.

Bapak Rahmat Syarifullah mulai mengajar di MA 1 Annuqayah sejak tahun 2010, bertepatan dengan dibukanya jurusan IPA.

Pada masa awal, ia mengampu mata pelajaran Biologi dan Matematika hingga tahun 2012. Sejak tahun tersebut hingga sekarang, ia kemudian fokus mengajar Fisika.

“Saya mengajar sejak tahun 2010, waktu jurusan IPA dibuka. Awalnya Biologi dan Matematika sampai 2012, lalu sejak itu saya mengajar Fisika sampai sekarang,” jelasnya.

Motivasi terjun di dunia pendidikan, menurutnya, lahir dari lingkungan tempat ia tumbuh serta tantangan intelektual yang ingin ia jawab.

“Salah satu motivasi saya karena tumbuh di lingkungan pendidik. Selain itu, saya ingin mengembangkan ilmu sains di kalangan pesantren, dan itu tantangan tersendiri bagi saya,” ungkapnya.

Dalam pengamatannya, tantangan pendidikan saat ini cukup kompleks, terutama terkait karakter siswa.

“Karakter siswa sekarang itu masih kurang dari sisi minat belajar dan kedisiplinan,” tuturnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Bapak Rahmat menerapkan metode pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered learning) dengan berbagai model dan pendekatan.

“Dalam proses belajar, saya menggunakan berbagai model, di antaranya Project Based Learning (PJBL) dan Problem Based Learning (PBL),” katanya.

Agar siswa tetap aktif dan fokus, ia kerap mengajak siswa belajar langsung melalui praktik.

“Saya sering mengadakan praktikum di laboratorium, mengajak siswa memecahkan masalah, dan membuat proyek-proyek sederhana,” tambahnya.

Menurutnya, keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh metode, tetapi juga oleh adab dan ta’dhim siswa kepada guru.

“Adab dan ta’dhim itu sangat penting. Dengan adab, kita belajar menghormati dan saling menghargai, serta bisa mencegah konflik sosial-emosional di dalam kelas,” tegasnya.

Dari sekian banyak pengalaman mengajar, ada satu hal yang paling berkesan baginya.

“Nilai-nilai pesantren yang sudah tertanam dalam diri siswa menjadikan mereka sangat menghormati dan menghargai guru,” kenangnya.

Terpilih sebagai guru favorit, menurutnya, bukan sekadar penghargaan, melainkan amanah moral.

“Guru favorit bagi saya adalah tanggung jawab moral yang harus dijaga dan dikembangkan. Ini mendorong saya untuk terus berinovasi, mencari solusi, dan menjadi teladan yang baik bagi siswa,” ujarnya.

Nilai utama yang ingin ia tanamkan kepada siswa adalah kesabaran dalam proses belajar.

“Siswa harus sabar dalam proses pembelajaran, karena kelak di masa depan merekalah yang akan memetik buah dari proses itu,” pesannya.

Menutup perbincangan, Bapak Rahmat menyampaikan pesan yang ia sandarkan pada dawuh para Masyayikh Annuqayah.

“Jangan pernah berhenti belajar di mana pun dan kapan pun. Harapan saya, jadilah pembelajar sepanjang hayat,” pungkasnya.

Editor: Lukmanul Hakim

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *