Apel Pagi MA 1 Annuqayah Teguhkan Spirit Ramadan dan Semangat Berprestasi

Guluk-Guluk,  MASA.SCH.ID

Apel pagi yang diikuti seluruh siswa MA 1 Annuqayah berlangsung khidmat dan penuh makna.

Kegiatan rutin tersebut tidak sekadar menjadi forum penyampaian informasi, tetapi juga momentum penting peneguhan nilai-nilai Ramadan, penguatan kedisiplinan, serta dorongan untuk terus mengembangkan prestasi dan karakter siswa, Rabu (11/02/2026) di Aula MA 1 Annuqayah.

Sejak pagi hari, para siswa telah memenuhi halaman Aula MA 1 Annuqayah dengan tertib. Suasana apel terasa berbeda karena sarat dengan pesan-pesan pembinaan menjelang libur Ramadan.

Jajaran pimpinan madrasah secara bergantian menyampaikan arahan yang menyentuh aspek spiritual, akademik, hingga tanggung jawab sosial siswa.

Dalam amanatnya, Kepala MA 1 Annuqayah KH. A. Farid Hasan mengawali pesan dengan mengingatkan bahwa Ramadan harus dimaknai sebagai ruang pendidikan karakter yang nyata.

“Libur Ramadan jangan dipahami sebagai waktu kosong tanpa arah. Justru di situlah ujian kedewasaan kalian. Isilah dengan hal-hal positif, seperti membantu pekerjaan orang tua, pekerjaan rumah, dan meringankan beban keluarga,” ujarnya di hadapan peserta apel.

Ia menegaskan bahwa membantu orang tua bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan bagian dari pembelajaran moral.

“Ketika kalian membantu orang tua, di situ kalian belajar tentang tanggung jawab, empati, dan keikhlasan. Nilai-nilai ini tidak selalu bisa diajarkan lewat buku, tetapi melalui kebiasaan,” jelasnya.

Menurutnya, Ramadan adalah madrasah kehidupan yang sesungguhnya. “Madrasah mengajarkan ilmu, tetapi Ramadan mengajarkan pengendalian diri. Keduanya harus berjalan seiring,” tambahnya.

Lebih lanjut, Kiai Farid Hasan menekankan pentingnya dimensi spiritual selama bulan suci. “Kita harus selalu berdoa dan berusaha agar Allah Swt. memberikan kemampuan untuk berpuasa, shalat tarawih, menjaga lisan, dan menjaga pandangan,” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa esensi ibadah Ramadan tidak berhenti pada rutinitas lahiriah. “Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah latihan mengendalikan emosi, ucapan, bahkan pikiran. Menjaga lisan berarti menjaga hubungan sosial, menjaga pandangan berarti menjaga kebersihan hati,” paparnya.

Dalam konteks pengembangan diri, siswa juga didorong untuk tetap aktif belajar. “Diusahakan di bulan Ramadhan siswa bisa mengikuti kursus atau kegiatan pengembangan keilmuan. Jangan sampai Ramadan berlalu tanpa peningkatan kualitas diri,” pesannya.

Ia menekankan bahwa semangat belajar tidak mengenal kalender akademik. “Siswa yang unggul adalah mereka yang mampu menjadikan setiap waktu sebagai kesempatan belajar, termasuk di bulan Ramadhan,” katanya.

Pesan yang tak kalah penting adalah menjaga nama baik almamater selama masa libur. “Jaga nama baik madrasah. Jangan sampai liburan yang lebih dari satu bulan dikalahkan oleh satu tahun yang telah ditanamkan ilmu, sikap, dan karakter yang baik,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa identitas siswa melekat di mana pun berada. “Kalian membawa nama madrasah di tengah masyarakat. Sikap, tutur kata, dan perilaku kalian mencerminkan nilai-nilai pendidikan yang telah kalian terima,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum Bpk. Abd. Aziz menyampaikan agenda akademik penting terkait evaluasi pembelajaran.

“Ujian Madrasah (UM) akan dilaksanakan pada rentang tanggal 22 April hingga 4 Mei 2026. Kami mohon kesiapan seluruh siswa,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kesiapan ujian membutuhkan konsistensi belajar sejak dini. “Belajar tidak bisa dilakukan secara instan. Perlu ketekunan, kedisiplinan, dan manajemen waktu yang baik. UM bukan sekadar ujian nilai, tetapi ujian kesungguhan dan tanggung jawab akademik,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan siswa untuk memanfaatkan waktu Ramadan secara produktif. “Meskipun suasana Ramadhan berbeda, semangat belajar harus tetap terjaga,” tambahnya.

Dari bidang kesiswaan, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan Bpk. Lukmanul Hakim menyampaikan sejumlah hal administratif yang perlu diperhatikan siswa setelah libur Ramadan.

“Penyetoran fotokopi ijazah MTs/SMP bagi kelas X, XI, dan XII dilakukan setelah libur Ramadan. Begitu pula pelunasan SISKA, foto ijazah bagi siswa kelas akhir, serta biaya pendidikan,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa ketertiban administrasi merupakan bagian dari kedisiplinan siswa. “Disiplin bukan hanya soal hadir tepat waktu, tetapi juga tertib dalam kewajiban administratif. Ini adalah bagian dari tanggung jawab sebagai pelajar,” katanya.

Ia juga memberikan penekanan khusus terkait kedisiplinan pascalibur. “Setelah kembali nanti, siswa harus lebih disiplin dan rajin masuk ke madrasah. Liburan tidak boleh menurunkan ritme semangat belajar,” pesannya.

Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas Bpk. Mahrus memanfaatkan kesempatan apel untuk memotivasi siswa agar aktif berkarya.

“Kami akan memberikan reward bagi siswa yang karyanya dimuat di Koran Amanah, media internal madrasah, maupun website resmi,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa budaya literasi harus menjadi ciri khas siswa madrasah. “Menulis dan berkarya bukan hanya tentang prestasi, tetapi tentang kontribusi pemikiran. Dengan karya, gagasan kalian akan terus hidup dan memberi manfaat,” paparnya.

Menurutnya, madrasah ingin membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga produktif secara intelektual.

“Kami ingin siswa MA 1 Annuqayah dikenal sebagai pelajar yang aktif berpikir, kritis, dan kreatif,” tambahnya.

Adapun Wakil Kepala Madrasah Bidang Sarana dan Prasarana Bpk. Khairul Umam mengajak siswa untuk memaksimalkan momentum Ramadan melalui aktivitas positif.

“Perbanyak kegiatan di bulan Ramadan, rajin shalat tarawih, dan ketika kembali nanti harus dengan semangat belajar yang tinggi,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa Ramadan merupakan fase penting penguatan mentalitas siswa.

“Ramadan melatih disiplin waktu, kesabaran, dan pengendalian diri. Nilai-nilai ini harus terbawa hingga setelah Ramadan,” katanya.

Apel pagi tersebut berlangsung dalam suasana penuh kekhidmatan. Para siswa tampak mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan serius dan antusias.

Momentum ini diharapkan mampu menanamkan kesadaran bahwa Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan ruang pembentukan karakter, spiritualitas, dan tanggung jawab sebagai pelajar.

Editor: Lukmanul Hakim

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *