Menjadi Guru Favorit Lewat Ilmu Balaghah yang Membumi dan Penuh Kasih Sayang

Guluk-Guluk, MASA.SCH.ID

KH. Abdul Halim Abdul Majid, Lc., M.A dikenal sebagai guru yang menghadirkan suasana pembelajaran hangat, reflektif, dan sarat makna di Madrasah Aliyah (MA) 1 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep.

Keistiqamahan, kedalaman ilmu, serta pendekatan humanis yang ia terapkan mengantarkannya terpilih sebagai guru favorit di lembaga tersebut.

KH. Abdul Halim Abdul Majid, Lc., M.A mulai mengajar di MA 1 Annuqayah sejak tahun pelajaran 2021–2022.

Pada awal pengabdiannya, ia dipercaya mengampu mata pelajaran Ilmu Balaghah untuk Kelas XI dan XII. Hingga kini, ia fokus mengajar Ilmu Balaghah untuk Kelas XI semua jurusan.

“Alhamdulillah, saya mulai mengajar sejak tahun pelajaran 2021–2022. Saat itu diminta mengampu materi Ilmu Balaghah untuk kelas XI dan XII,” tuturnya.

Motivasi mengajarnya lahir dari kesadaran akan pentingnya berbagi ilmu. Menurutnya, ilmu justru akan terus bertambah ketika dibagikan.

“Saya mengajar untuk berbagi ilmu yang saya serap sejak masih aktif menjadi santri hingga sekarang. Ilmu itu berbeda dengan harta, semakin dibagi justru semakin bertambah. Selain itu, saya ingin mengamalkan ilmu yang Allah SWT anugerahkan kepada saya,” ungkapnya.

Dalam pandangannya, karakter siswa senantiasa mengalami perubahan dari generasi ke generasi. Namun, ia mengakui tidak semua perubahan berjalan ke arah yang positif.

“Sebagian perubahan itu mengarah pada dekadensi moral, karakter yang kurang tangguh, dan dominannya hiburan dibanding keilmuan. Ini dipengaruhi banyak faktor, mulai dari keluarga, lingkungan, pendidikan, hingga ekonomi,” jelasnya.

Menyadari bahwa Ilmu Balaghah merupakan bagian dari ilmu alat yang kerap dianggap sulit oleh siswa, KH. Abdul Halim mencoba menghadirkan pendekatan yang lebih membumi.

“Saya sepenuhnya sadar materi ini kadang menjadi silent killer bagi siswa. Karena itu, saya berusaha memberi sentuhan agar konsep dan rumus Balaghah tidak hanya teoritis, tapi juga aplikatif dalam kehidupan sehari-hari,” terangnya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, ia menerapkan metode Meaningful Learning, agar siswa mampu memahami makna di balik kaidah, bukan sekadar menghafal rumus.

Dalam mengelola kelas, ia menekankan pentingnya memahami latar belakang dan karakter belajar siswa yang beragam.

“Siswa datang membawa cerita masing-masing. Ada yang kinestetik, auditori, dan linguistik. Perbedaan ini tidak bisa ditangani dengan satu cara dan satu pola,” katanya.

Dalam penilaiannya, ia memegang prinsip bahwa ilmu dan adab adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

“Jika harus memilih, saya lebih memprioritaskan adab. Ilmu bisa dipelajari, tapi adab harus ditanamkan dalam karakter siswa,” tegasnya.

Pengalaman paling berkesan baginya selama mengajar di Annuqayah adalah ketika mampu menghadirkan perubahan positif dalam diri siswa.

“Sekecil apa pun perubahan karakter siswa ke arah yang lebih baik, itu sudah sangat berkesan. Atau ketika siswa diberi ruang untuk menampilkan potensinya dalam konteks yang positif,” kenangnya.

Terpilih sebagai guru favorit ia maknai dengan penuh kerendahan hati.

“Saya tidak tahu proses dan dasar pemilihannya. Mungkin pembelajaran yang saya berikan dianggap tidak monoton dan tidak membosankan, meski masih banyak PR bersama,” ujarnya.

Nilai utama yang ingin ia tanamkan kepada siswa adalah rahmat dan kasih sayang.

“Di kelas, saya lebih sering menguraikan tentang Surga daripada Neraka, tentang ampunan dan kasih sayang Allah daripada siksa-Nya. Singkatnya, saya lebih mempromosikan Surga-Nya Allah,” ungkapnya.

Di akhir, ia menyampaikan harapan yang sederhana namun mendalam.

“Saya berharap siswa menjadi sumber rasa nyaman dari segala arah, seperti oase di tengah padang pasir. Tidak harus besar dan deras, tapi berdampak. Kalau bisa besar dan deras, ya Alhamdulillah,” pungkasnya.

Editor: Lukmanul Hakim

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *