
Guluk-Guluk, MASA.SCH.ID
Yayasan Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Profil Santri Annuqayah sebagai upaya merumuskan gambaran ideal santri Annuqayah yang utuh, komprehensif, dan sesuai dengan visi keilmuan serta keislaman pesantren.
Kegiatan ini dilaksanakan di Aula KH. Abdul Basith AS Universitas Annuqayah pada Sabtu (10/01/2026) dan diikuti oleh unsur pimpinan yayasan, dewan pengasuh, dan perwakilan ibu nyai Annuqayah.
FGD ini menjadi ruang diskusi strategis untuk menyatukan persepsi tentang karakter, kompetensi, dan nilai-nilai utama yang harus dimiliki oleh santri Annuqayah di tengah tantangan zaman.
Profil santri yang dirumuskan tidak hanya menekankan aspek kecerdasan intelektual, tetapi juga penguatan spiritualitas, akhlakul karimah, kemandirian, kepedulian sosial, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan masyarakat.
Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Annuqayah KH. Abbadi Ishomuddin menyampaikan bahwa penyusunan Profil Santri Annuqayah merupakan langkah penting dalam memperkuat arah pendidikan pesantren.
“Profil santri ini akan menjadi kompas bagi seluruh lembaga di bawah naungan Yayasan Annuqayah dalam merancang program pendidikan, pembinaan, dan pengembangan karakter santri. Dengan adanya profil yang jelas, kita memiliki standar bersama tentang santri seperti apa yang ingin kita lahirkan,” ungkapnya.
Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai masukan dari peserta FGD. Beberapa poin penting yang mengemuka antara lain yaitu dari:
KH. M. Afif Hasan:
1. Bahasa atau narasi pemaparan profil dibuat secara konseptual tidak sangat teknis.
2. Perlu ada kesepakatan mengenai Dasar dan Tujuan dari Pondok Pesantren Annuqayah.
KH. Abd. A’la Basyir:
1. Profil santri perlu diposisikan sebagai bagian dari kurikulum Pesantren secara umum, karena itu dibutuhkan landasan kurikulumnya berupa: landasan mendalam (filosofis), landasan sosial-kemasyarakatan, landasan historis, dan landasan keilmuan.
2. Visi (mimpi) dan Misi (risalah) lembaga perlu difinalkan.
3. Profil lulusan setidaknya mencakup: tafaqquh fiddin, keterampilan, dan ketercapaian pembelajaran.
4. Perlu ada kajian dan struktur kurikulum.
5. Sistem penjaminan mutu.
6. Referensi dalam menyusun Profil Santri Annuqayah masih sangat minim.
7. Profil Santri Annuqayah tidak hanya untuk lembaga formal saja tapi juga yang nonformal. Artinya pesantren diposisikan sebagai lembaga “Induk” dan satuan pendidikan di bawahnya sebagai unit-unit yang terikat.
KH. Moh. Shalahuddin A. Warits:
Ada 5 rumusan Profil Santri Annuqayah, yaitu:
1. Bertakwa.
2. Berakhlak.
3. Menghayati dan mendalami agama (Kompetensi Ilmu Agama dan Kompetensi STEM).
4. Berwawasan dan berilmu luas.
5. Mengabdi kepada masyarakat, lingkungan dan tanah air.
Perlu bab mengenai Kelembagaan yang mencakup:
1. Relasi antar-lembaga.
2. Perbedaan/keunikan antar-lembaga.
3. Profil santri perlu diposisikan sebagai nomenklatur yang terbuka.
KH. A. Hanif Hasan:
1. Merumuskan ulang mengenai apa yang disebut Profil Santri Annuqayah seperti ideologi, pakaian/cadar, Wahabi, jama’ah tabligh, dan lainnya.
2. Kejelasan mengenai Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
K. M. Mushthafa:
1. Profil Santri Annuqayah belum menunjukkan suatu keutuhan yang terintegratif antar bab.
2. Perlu memperjelas apa yang disebut Nilai Dasar dalam Profil Santri Annuqayah.
3. Bahasan tentang “Tantangan Santri” perlu dihubungkan dengan profil santri Annuqayah.
4. Perlu adanya proporsionalitas dalam menarasikan sub-bab dalam bahasan.
5. Tujuan Profil Santri Annuqayah bukan sekadar sebagai panduan untuk belajar santri, tapi yang utama adalah sebagai acuan bagi pengelola pesantren.
KH. Muhammad Ali Fikri:
1. Profil Santri Annuqayah dikhususkan untuk mengatur sekolah formal saja.
2. Capaian pembelajaran langsung ke teks kitab kuning.
3. Perlu mempertegas apa yang perlu diseragamkan dan membiarkan keunikan pada masing-masing kelembagaan/pesantren daerah.
KH. M. Syafi’ie Anshori:
1. Draf Profil Santri Annuqayah tidak perlu dibongkar total cukup direvisi sesuai kebutuhan.
2. Perbedaan para kiai/pengasuh sudah lazim di Annuqayah. Dan saat terjadi perbedaan, umumnya para kiai/pengasuh menyikapinya dengan “diam”.
3. Pentingnya sikap kebersamaan dan keikhlasan. Menyitir pernyataan KH. Abd. Basith AS, “Jangan terkesan terjadi jual-beli Ilmu”.
KH. Moh. Naqib Hasan:
1. Penulisan Profil Santri Annuqayah perlu rapi, sistematis, dan kohesif.
2. Tujuan Profil Santri Annuqayah perlu dipertegas.
Para peserta juga menekankan bahwa Profil Santri Annuqayah harus berpijak pada nilai-nilai kepesantrenan yang telah menjadi tradisi, seperti ta’dzim kepada guru, kesederhanaan hidup, ketekunan dalam menuntut ilmu, serta semangat khidmah.
Nilai-nilai ini dipadukan dengan kebutuhan kontekstual agar santri tetap relevan dan mampu berkontribusi positif di era modern.
Melalui FGD ini, Yayasan Annuqayah berharap dapat menghasilkan rumusan Profil Santri Annuqayah yang aplikatif dan mudah diimplementasikan oleh seluruh satuan pendidikan.
Profil tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam penyusunan kurikulum, kegiatan ekstrakurikuler, sistem pembinaan santri, serta evaluasi keberhasilan pendidikan.
Kegiatan FGD ini juga menjadi bukti komitmen Yayasan Annuqayah dalam terus melakukan pembaruan dan peningkatan mutu pendidikan pesantren.
Dengan adanya Profil Santri Annuqayah yang terumuskan secara matang, diharapkan santri Annuqayah mampu tumbuh menjadi generasi yang alim, berakhlak mulia, mandiri, serta siap mengabdi kepada agama, bangsa, dan negara.
Editor: Lukmanul Hakim





