Diklat UKS MA 1 Annuqayah, Siswa Diajari Pertolongan Pertama hingga Pembidaian

Guluk-Guluk, MASA.SCH.ID

Siswa Madrasah Aliyah (MA) 1 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep mendapatkan materi pertolongan pertama, bantuan hidup dasar (BHD), hingga pembidaian dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) MA 1 Annuqayah hari pertama, Rabu (07/10/2026) di aula setempat.

Materi tersebut disampaikan oleh Mathafi, S.Kep. Ns. sebagai bekal bagi siswa dalam menghadapi kondisi darurat di lingkungan madrasah.

Menurutnya, penyampaian materi ini bertujuan membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan dasar dalam memberikan pertolongan kepada orang yang mengalami kecelakaan, cedera, maupun kondisi medis yang membutuhkan penanganan segera.

“Para siswa diperkenalkan pada langkah-langkah pertolongan yang tepat dengan tetap memperhatikan keselamatan diri dan korban,” jelasnya.

Dalam materi pertolongan pertama, Mathafi menjelaskan pentingnya memberikan bantuan awal secara cepat, tepat, dan aman sebelum korban mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

“Pertolongan pertama merupakan tindakan awal untuk membantu orang yang mengalami cedera atau gangguan kesehatan mendadak, sekaligus mencegah kondisi korban semakin memburuk,” ungkapnya.

Mathafi juga membahas tentang bantuan hidup dasar (BHD), yakni serangkaian tindakan pertolongan awal bagi seseorang yang mengalami kondisi mengancam nyawa, seperti henti jantung.

“Dalam materi ini, siswa diperkenalkan pada pentingnya mengenali kondisi korban yang tidak merespons dan tidak bernapas secara normal, segera meminta bantuan medis, serta memahami prinsip resusitasi jantung paru (RJP) dan penggunaan Automated External Defibrillator (AED) apabila tersedia,” ujarnya.

Menurutnya, bantuan hidup dasar menjadi salah satu materi penting karena tindakan yang cepat dan tepat dapat meningkatkan peluang keselamatan korban.

“Para siswa juga ditekankan agar mengikuti panduan yang benar, melakukan tindakan sesuai tingkat pelatihan, serta tidak menunda permintaan bantuan profesional ketika menghadapi keadaan darurat,” tandasnya.

Selain itu, lanjut Mathafi, para siswa mendapatkan materi pembidaian, yaitu tindakan memberikan penyangga atau imobilisasi pada bagian tubuh yang diduga mengalami patah tulang atau cedera tertentu.

“Pembidaian bertujuan membatasi pergerakan bagian yang cedera, mengurangi risiko kerusakan lebih lanjut, serta membantu mengurangi rasa sakit sebelum korban memperoleh penanganan medis,” lanjutnya.

Dalam penerapannya, para siswa dikenalkan pada prinsip pembidaian yang aman, seperti menjaga bagian tubuh yang cedera agar tidak banyak bergerak, menyangga bagian tersebut pada posisi yang ditemukan, serta tidak memaksakan pelurusan apabila terdapat dugaan patah tulang.

“Penolong juga perlu memperhatikan kondisi sirkulasi pada bagian tubuh yang cedera dan segera mencari bantuan tenaga medis,” pungkasnya.

Editor: Lukmanul Hakim

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *