
Guluk-Guluk, MASA.SCH.ID
Dr. H. Abdul Wahid, M.Ag. menegaskan bahwa generasi saat ini berkewajiban untuk melanjutkan dan meneruskan perjuangan para pendahulu dengan bentuk dan model yang berbeda, sesuai dengan tuntutan zaman.
“Perjuangan tersebut tidak hanya dilakukan dalam menghadapi penjajahan, tetapi juga melalui pendidikan, pengasuhan, dan keteladanan kepada generasi berikutnya,” jelasnya saat mengisi materi dalam kegiatan Refleksi HUT Ke-81 RI yang diselenggarakan oleh OSIM MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, Senin (17/08/2026).
Ia mencontohkan perjuangan melawan penjajah yang dilakukan oleh Kiai Abdullah Sajjad, serta perjuangan para kiai dalam mendidik dan merawat santri, sebagaimana diteladankan oleh Kiai Ilyas dan para kiai lainnya.
“Seluruh perjuangan tersebut dilakukan secara sungguh-sungguh dengan pengorbanan yang tidak sedikit, baik nyawa, pikiran, waktu, tenaga, maupun materi,” ungkap Dosen Program Pascasarjana Universitas Annuqayah Guluk-Guluk ini.
Menurutnya, setiap orang memiliki medan perjuangan masing-masing sesuai profesi dan tanggung jawab yang dijalani.
“Tugas kita adalah menjadi yang terbaik dalam profesi yang kita jalani,” tutur Alumni PP. Annuqayah Latee Guluk-Guluk ini.
Ia menjelaskan, seorang santri harus belajar dengan sungguh-sungguh. Seorang guru harus mengajar dengan sungguh-sungguh. Sementara seorang pengasuh harus menjalankan tugas pengasuhannya dengan sungguh-sungguh.
“Prinsip tersebut berlaku bagi setiap orang sesuai dengan peran masing-masing,” jelasnya.
Menurutnya, kebanggaan terhadap jasa para leluhur tidak cukup jika tidak diikuti dengan usaha untuk meneruskan perjuangan mereka.
“Sangat naif jika kita hanya membanggakan jasa para leluhur, tanpa memberikan makna atas jasa mereka,” tegas alumni MA 1 Annuqayah Lulusan 1993 ini.
Dr. Abdul Wahid juga mengutip syair Arab yang menggambarkan pentingnya seseorang membangun kemuliaan melalui usaha dan perjuangannya sendiri:
فَشَرُّ الْعَالَمِينَ ذَوُو خُمُولٍ
إِذَا فَاخَرْتَهُمْ ذَكَرُوا الْجُدُودَا
وَخَيْرُ النَّاسِ ذُو حَسَبٍ قَدِيمٍ
أَقَامَ لِنَفْسِهِ حَسَبًا جَدِيدَا
“Manusia yang paling buruk adalah mereka yang tidak memiliki prestasi dan hanya mengandalkan kebesaran leluhur ketika berhadapan dengan orang lain. Sebaliknya, manusia terbaik adalah mereka yang memiliki kemuliaan masa lalu sekaligus mampu membangun kemuliaan baru bagi dirinya.”
Ia kemudian mengibaratkan perjuangan para pendahulu seperti seseorang yang menanam pohon untuk generasi berikutnya:
لَقَدْ غَرَسَ مَنْ قَبْلَنَا فَأَكَلْنَا، وَنَغْرِسُ نَحْنُ الْآنَ لِيَأْكُلَ مَنْ بَعْدَنَا
“Para pendahulu telah menanam, dan kita memanennya hari ini. Tugas kita hari ini adalah menanam sehingga orang-orang setelah kita bisa memanennya.”
Ia berharap refleksi kemerdekaan tidak berhenti pada mengenang perjuangan masa lalu. Momentum tersebut harus menjadi dorongan bagi generasi muda untuk melanjutkan perjuangan dengan memberikan yang terbaik sesuai bidang masing-masing.
“Bagi siswa MA 1 Annuqayah perjuangan tersebut dapat diwujudkan dengan belajar secara sungguh-sungguh, menjaga akhlak, mengembangkan kemampuan, serta mempersiapkan diri agar mampu memberikan manfaat bagi masyarakat di masa mendatang,” pungkasnya.
Editor: Lukmanul Hakim





