
Guluk-Guluk, MASA.SCH.ID
Kabar membanggakan datang dari Madrasah Aliyah (MA) 1 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, karena Rizki Maulana yang merupakan alumni MA 1 Annuqayah Lulusan 2026 berhasil lolos dan diterima untuk melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Keberhasilan tersebut menjadi buah dari ikhtiar, persiapan, serta dukungan keluarga, guru, teman, dan lingkungan pendidikan yang selama ini mengiringi perjalanannya.
Rizki mengaku bersyukur dan bahagia atas kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi Islam terkemuka di dunia tersebut.
“Alhamdulillah, senang. Apalagi lingkungan sangat mendukung,” ungkap Rizki kepada MASA.SCH.ID pada Rabu (29/07/2026).
Menurutnya, Universitas Al-Azhar dipilih karena memiliki sejarah panjang dalam pengembangan keilmuan Islam. Al-Azhar juga dikenal sebagai salah satu universitas tertua di dunia yang hingga kini menjadi salah satu pusat perkembangan ilmu-ilmu keislaman.
“Karena Al-Azhar salah satu universitas tertua di dunia yang menjadi pusat perkembangan ilmu Islam,” jelasnya.
Untuk dapat melanjutkan studi di Al-Azhar, Rizki harus melewati sejumlah tahapan seleksi. Proses tersebut diawali dengan Computer Based Test (CBT) atau tes kemampuan bahasa Arab.
Selanjutnya, ia mengikuti wawancara keislaman dan kebangsaan, serta mengikuti tes hafalan Al-Qur’an sebanyak satu juz.
“Tahapan berikutnya adalah Tahdid Mustawa, yakni tes untuk menentukan penempatan kelas bahasa. Setelah itu, calon mahasiswa mengikuti Daurah Tahlili atau Program Muadalah, yakni program penyetaraan ijazah yang berlangsung kurang lebih 40 hari,” ungkap Rizki.
Tidak berhenti sampai di sana, ia juga harus mengikuti Daurah Lughawiyah, berupa kelas bahasa sesuai level kemampuan masing-masing.
“Program tersebut berlangsung sekitar empat bulan, tergantung level yang diperoleh peserta,” tambahnya.
Rangkaian seleksi yang panjang menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi Rizki. Terlebih, calon mahasiswa harus mengikuti program pembelajaran dengan intensitas yang cukup tinggi.
Menurutnya, tantangan terbesar adalah banyaknya tahapan yang harus dilewati, terutama selama mengikuti Daurah Tahlili dan Daurah Lughawiyah.
“Dalam proses tersebut, calon mahasiswa dituntut mengikuti pembelajaran sekitar lima jam sebanyak dua kali dalam sehari,” lanjut Rizki.
Sebelum mengikuti proses seleksi, Rizki mempersiapkan diri dengan memenuhi seluruh persyaratan pendaftaran dan mempelajari materi yang akan diujikan dalam seleksi.
Baginya, pendidikan yang diperoleh selama menempuh pendidikan di pesantren dan madrasah menjadi bekal penting dalam menghadapi proses tersebut.
“Bekal pendidikan pesantren dan madrasah,” jawabnya ketika ditanya mengenai hal yang paling membantu dalam proses menuju Al-Azhar.
Keberhasilan Rizki tentu tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Ia menyebut keluarga, guru, teman, serta lingkungan sebagai bagian penting yang turut mengantarkannya hingga berhasil mendapatkan kesempatan melanjutkan studi ke Mesir.
Setelah berada di Al-Azhar, Rizki memiliki tekad untuk memperdalam Ulumul Islam. Kesempatan belajar di salah satu pusat keilmuan Islam tersebut diharapkan dapat menjadi ruang untuk memperluas wawasan dan memperdalam khazanah keislaman.
“Memperdalam Ulumul Islam,” ujarnya saat ditanya mengenai target selama menempuh pendidikan di Al-Azhar.
Kepada para pelajar dan santri yang memiliki cita-cita melanjutkan studi ke luar negeri, khususnya Al-Azhar, Rizki berpesan agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
“Semangat! Kesulitan hari ini bisa jadi adalah kunci kesuksesanmu nanti,” pesannya.
Keberhasilan Rizki Maulana menjadi bukti bahwa pendidikan pesantren dan madrasah dapat menjadi bekal kuat bagi generasi muda untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat internasional.
Perjalanan panjang menuju Al-Azhar juga menunjukkan bahwa cita-cita membutuhkan persiapan, kesabaran, optimisme, dan dukungan dari lingkungan sekitar.
Editor: Lukmanul Hakim





