
Guluk-Guluk, MASA.SCH.ID
KH. M. Ainul Yaqin, Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Latee Guluk-Guluk Sumenep menuturkan seorang santri harus mampu menunjukkan perilaku yang baik sehingga membawa nama baik bagi pesantren dan almamaternya.
Hal itu disampaikannya saat mengisi sesi Sowan Pengasuh dalam kegiatan Remedial Enrichment Siswa Kelas Akhir (SISKA) Madrasah Aliyah (MA) 1 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, Ahad (10/05/2026) di Aula MA 1 Annuqayah.
Menurutnya, tanggung jawab seorang santri sejatinya sama dengan tanggung jawab seorang anak kepada keluarga, yakni menjaga nama baik dan kehormatan.
“Sebagai santri, kita punya tanggung jawab menjaga nama baik. Lakukan sesuatu yang membuat orang lain melihat baiknya pesantren melalui perilaku kita,” tuturnya.
Kiai Ainul Yaqin juga berpesan agar para siswa tidak memutus tali silaturahim, baik dengan sesama siswa, sesama santri, maupun dengan pesantren tempat mereka menimba ilmu.
“Jangan sampai setelah lulus hubungan antarteman dan dengan pesantren menjadi putus. Silaturahim itu penting dan harus terus dijaga,” terangnya.
Selain itu, Alumni MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk ini mengingatkan agar para siswa lebih fokus memperbaiki prestasi dan akhlak daripada membicarakan keburukan orang lain.
“Kalau ada prestasi, itu yang dibicarakan. Jangan sibuk membahas keburukan orang lain,” pesannya di hadapan peserta SISKA.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Ainul Yaqin juga menyinggung beberapa kebiasaan buruk yang kerap terjadi di lingkungan pesantren dan tidak seharusnya dibawa pulang ke rumah maupun ke masyarakat. Di antaranya ialah kebiasaan berbohong dan kurang peduli terhadap pengelolaan sampah serta kebersihan lingkungan.
“Hal-hal kecil seperti membuang sampah sembarangan atau berbohong sering dianggap biasa, padahal itu bisa merusak diri sendiri dan lingkungan,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa hal-hal kecil dalam kehidupan dapat bernilai besar dan berpahala apabila dilakukan dengan niat yang baik dan benar. “Amalan kecil bisa menjadi besar di sisi Allah jika niatnya baik,” dawuhnya.
Lebih lanjut, beliau berpesan agar para siswa tidak menjadi “duri” di tengah masyarakat setelah lulus dari pesantren dan madrasah. Seorang santri, menurutnya, harus mampu memberikan manfaat dan tidak menimbulkan mudharat bagi orang lain.
“Jangan sampai kehadiran kita justru menyusahkan orang lain. Jadilah pribadi yang membawa manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Pada akhir dawuhnya, ia mengajak seluruh siswa untuk senantiasa mencari keberkahan hidup dan memohon kesempurnaan hanya kepada Allah SWT.
“Keberhasilan hidup tidak hanya diukur dari materi dan prestasi, tetapi juga dari keberkahan yang diberikan Allah dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.
Editor: Lukmanul Hakim





