Testimoni Alumni, Dr. Fathor Rachman Tekankan Kesungguhan dan Disiplin sebagai Kunci Sukses Santri

Guluk-Guluk, MASA.SCH.ID

Alumni Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Lulusan 1999 Dr. Fathor Rachman, S.Pd.I., M.Pd. menekankan pentingnya kesungguhan dan kedisiplinan dalam menuntut ilmu sebagai kunci kesuksesan dan keberhasilan santri.

Testimoni inspiratif tersebut disampaikannya dalam kegiatan Halal Bihalal dan Temu Alumni Lintas Generasi MA 1 Annuqayah Tahun 2026 di Aula MA 1 Annuqayah, Rabu (25/03/2026).

Di hadapan para alumni lintas generasi dan santri yang hadir, ia membuka testimoni dengan menegaskan bahwa keberhasilan belajar di lingkungan pesantren tidak semata ditentukan oleh sistem yang ada, melainkan oleh kekuatan niat dan kemauan individu.

“Di Annuqayah, santri jika ingin pintar maka harus ada kemauan yang kuat. Apapun konsepnya, kalau tidak ada kemauan maka tidak akan bisa,” ujarnya.

Menurutnya, Annuqayah sebagai lembaga pendidikan telah menyediakan ekosistem pembelajaran yang memadai, baik dari sisi kurikulum, tradisi keilmuan, maupun bimbingan para guru. Namun, semua itu tidak akan bermakna tanpa kesungguhan dari diri santri.

“Di Annuqayah bukan sistem yang membentuk, tetapi rasa kesungguhan santri itu sendiri yang membentuk,” tegas Dosen Pascasarjana Universitas Annuqayah Guluk-Guluk ini.

Ia kemudian menyoroti pentingnya metode menghafal sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses penguasaan ilmu pengetahuan.

Dalam pandangannya, kemampuan akademik yang unggul tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang yang menuntut kedisiplinan tinggi, salah satunya dengan memperbanyak hafalan.

“Kalau mau ranking atau ingin benar-benar menguasai ilmu pengetahuan, harus dan wajib dihafal,” jelasnya.

Lebih jauh, ia mengajak para alumni dan santri untuk tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan belajar. Ia menekankan bahwa memaksakan diri dalam batas kemampuan yang wajar justru menjadi kunci dalam membangun kapasitas intelektual yang lebih luas.

“Harus memaksakan diri dalam belajar. Jangan menunggu mood atau kondisi ideal, karena kemampuan itu lahir dari kebiasaan yang terus dipaksakan,” ungkapnya.

Dalam bagian lain testimoninya, Dr. Fathor Rachman juga memberikan perspektif menarik tentang standar keunggulan seorang pelajar.

Ia menilai bahwa menguasai satu bidang ilmu saja belum cukup untuk disebut hebat, melainkan perlu memperluas cakupan keilmuan.

“Kalau menguasai satu materi itu tidak hebat. Yang hebat itu kalau bisa menguasai lima atau lebih, baru itu hebat dan layak untuk didekati,” pungkasnya.

Testimoni tersebut tidak hanya menjadi refleksi pengalaman pribadi sebagai alumni, tetapi juga menjadi suntikan motivasi bagi generasi muda Annuqayah agar terus berproses menjadi pribadi yang unggul.

Editor: Lukmanul Hakim

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *