
Guluk-Guluk, MASA.SCH.ID
KH. Muhammad Ali Fikri selaku Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk Sumenep menekankan pentingnya menjaga tradisi berjamaah dan memperkuat silaturahim sebagai identitas utama alumni Annuqayah.
Hal tersebut disampaikannya saat mengisi Tausiyah dalam acara Halal Bihalal dan Temu Alumni Lintas Generasi Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Tahun 2026 di Aula MA 1 Annuqayah, Rabu (25/03/2026).
Dalam tausiyahnya, ia menegaskan bahwa nilai utama yang ditanamkan di lingkungan pesantren Annuqayah adalah kebersamaan. Menurutnya, kebiasaan tersebut harus terus dijaga oleh para alumni di manapun berada.
“Di Annuqayah identik dengan jamaah. Jika ada alumni yang ingin hebat sendiri, sukses sendiri, pintar sendiri, kaya sendiri, perlu dipertanyakan, apakah dia alumni Annuqayah atau pemain tunggal,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya membangun komunikasi dan silaturahim yang baik, sebagaimana dicontohkan oleh para masyayikh Annuqayah yang secara rutin menjaga hubungan.
“Menjalin komunikasi dan silaturahim itu sangat penting. Para masyaikh kita setiap hari Jum’at selalu bersilaturahim, itu menjadi teladan yang harus kita jaga,” tuturnya.
Kiai Ali Fikri juga mengingatkan bahwa alumni harus mampu memberikan manfaat bagi orang lain sebagai wujud nyata dari ilmu yang telah diperoleh selama di pesantren.
“Sebagus apapun ilmu kita, harus bisa memberi manfaat kepada orang lain,” tegas Guru MA 1 Annuqayah ini.
Dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan beragama, ia mengajak para alumni untuk tetap mengikuti keputusan pemerintah dan Nahdlatul Ulama dalam berbagai persoalan keagamaan.
“Kita harus ikut pemerintah dan NU dalam setiap keputusan, misalnya dalam penentuan awal bulan melalui sidang isbat dan lainnya,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa tujuan utama dalam setiap amal ibadah adalah mengharap ridha Allah SWT. Hal tersebut menjadi landasan utama dalam menjalani kehidupan.
“Mengharap ridha Allah SWT itu adalah hal yang paling utama dalam hidup kita,” imbuhnya.
Kiai Ali Fikri juga mengingatkan pentingnya kejujuran dalam urusan muamalah, termasuk dalam persoalan utang-piutang. Menurutnya, kejelasan komunikasi menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.
“Kalau kita punya utang, harus dilunasi. Tidak hanya meminta maaf saja, karena itu haqqul adami,” paparnya.
Dalam bagian akhir tausiyahnya, ia mengajak para alumni untuk senantiasa mendoakan para guru, mulai dari guru pertama hingga para kiai di pesantren, sebagai bentuk penghormatan dan menjaga keberkahan ilmu.
“Kita harus mendoakan guru, dari alif sampai para guru di pesantren, setiap hari,” pesannya.
Kiai Ali Fikri juga menekankan pentingnya menjaga hubungan batin dengan para kiai melalui kiriman doa, seperti membaca Al-Fatihah atau bertawasul secara rutin.
“Mengirim fatihah atau tawasul kepada kiai itu penting. Minimal satu bulan sekali. Kalau satu tahun sekali, itu berarti haflatul imtihan dan perlu dipertanyakan kesantriannya,” pungkasnya.
Tausiyah tersebut menjadi penguatan nilai-nilai kepesantrenan bagi para alumni agar tetap istiqamah dalam menjaga tradisi, memperkuat hubungan spiritual, serta berkontribusi positif di tengah masyarakat.
Editor: Lukmanul Hakim





