
Guluk-Guluk, MASA.SCH.ID
Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, Madrasah Aliyah (MA) 1 Annuqayah menggelar Sarasehan Guru dengan tema “Refleksi Kemerdekaan”.
Kegiatan yang dilaksanakan di Aula MA 1 Annuqayah ini dihadiri oleh pengurus Yayasan Annuqayah, pimpinan, para guru, serta civitas MA 1 Annuqayah, Selasa (19/08/2025).
Dalam sambutannya, Kepala MA 1 Annuqayah, KH. A. Farid Hasan menegaskan bahwa kemerdekaan bukan sekadar hadiah, tetapi buah dari perjuangan panjang.
Menurutnya, perjuangan guru masa kini adalah melawan kebodohan para siswa, membenahi kesalahan kebiasaan, serta menegakkan kedisiplinan.
“Berjuang hari ini bukan lagi dengan senjata, tapi melawan kebodohan. Kita harus berani merubah kebiasaan yang salah. Ingat, tidak ada kemerdekaan tanpa ada kedisiplinan. Disiplinlah yang akan membawa kita kepada kemajuan bersama, sebagaimana para pejuang dahulu berdisiplin dalam perjuangannya hingga bisa meraih kemerdekaan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah Yayasan Annuqayah, KH. Ainul Haq, dalam arahannya memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya acara sarasehan tersebut.
Beliau menekankan pentingnya profesionalitas guru dalam mendidik para siswa.
“Saya sangat mengapresiasi langkah MA 1 Annuqayah yang telah mengadakan acara ini. Guru harus tetap mengikuti garis kebijakan Yayasan Annuqayah, serta meningkatkan profesionalisme dan kepedulian, khususnya dalam hal akhlak siswa. Guru harus menyesuaikan fungsinya sebagai pendidik dan teladan, sehingga pendidikan di madrasah ini benar-benar mencetak generasi yang berakhlak mulia dan berilmu luas,” ungkapnya.
Acara inti sarasehan diisi dengan refleksi kemerdekaan oleh KH. A. Hanif Hasan. Dalam penyampaiannya, beliau menyoroti stigma global terhadap umat Islam yang sering dicap malas, kurang serius, dan tidak disiplin.
Beliau menekankan pentingnya mengubah citra tersebut melalui pendidikan yang berlandaskan nilai ihsan.
“Kita tidak bisa menutup mata, stigma masyarakat internasional kepada umat Islam masih sering negatif: dianggap malas, tidak serius, kotor, jorok, dan tidak disiplin. Padahal, ajaran Islam justru mengajarkan kebersihan, ketertiban, dan kesungguhan. Karena itu, ihsan harus kita tanamkan sebagai mutu dan kualitas agama,” jelasnya.
Menurutnya, siswa perlu dikenalkan bahwa para nabi bukan hanya ahli ibadah, tetapi juga kepala negara yang baik, sukses, dan penuh tanggung jawab dalam pemerintahannya.
“Dengan demikian, mereka akan melihat Islam sebagai agama yang paripurna, bukan sekadar ritual. Semua perjuangan pendidikan ini harus kita niatkan dengan kejujuran, semata-mata karena ajaran Allah, bukan sekadar rutinitas tanpa makna,” jelasnya penuh penekanan.
Sarasehan ini diakhiri dengan diskusi interaktif antar guru yang membahas strategi meningkatkan kualitas pendidikan, terutama dalam membangun disiplin, akhlak, dan kompetensi siswa di era modern.
Sebagai penutup, kegiatan ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin KH. Misqala Karim, dengan harapan agar seluruh guru diberi kekuatan dalam menjalankan amanah pendidikan.
Para guru juga berharap, momentum Refleksi Kemerdekaan ini mampu menjadi pengingat sekaligus penyemangat untuk terus berjuang menegakkan kedisiplinan, profesionalisme, serta membentuk generasi bangsa yang berilmu, berakhlak, dan berkarakter.
Editor: Lukmanul Hakim