Selayang Pandang

Pada tahun 1887, seorang ulama asal Kudus, Jawa Tengah, bernama Kiai Haji Moh. Syarqawi menetap di Guluk-Guluk, Sumenep, Madura. Sebelumnya, beliau telah menempuh pendidikan selama lebih dari 13 tahun di berbagai tempat—di antaranya pesantren-pesantren di Madura dan Pontianak, serta di luar negeri seperti Malaysia, Patani (Thailand Selatan), dan Mekkah.

Setelah kembali ke tanah air, beliau memulai dakwah melalui pengajian Al-Qur’an dan kitab-kitab klasik di Prenduan. Empat belas tahun kemudian, beliau bersama keluarga pindah ke Guluk-Guluk untuk mendirikan pesantren secara lebih terstruktur. Dengan dukungan seorang saudagar kaya bernama Haji Abdul Aziz, dibangunlah rumah tinggal, langgar (mushala), serta tempat tinggal untuk keluarganya, Nyai Qamariyah. Dua lokasi awal ini kelak dikenal sebagai Dalem Tenga dan Lubangsa, yang menjadi cikal bakal Pondok Pesantren Annuqayah.

Kiai Haji Moh. Syarqawi memimpin pesantren tersebut selama 23 tahun. Sepeninggal beliau, kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Kiai Haji Bukhari, yang mulai membentuk struktur organisasi dan sistem kepemimpinan yang lebih sistematis. Salah satu tonggak sejarah penting terjadi pada tahun 1923, saat Kiai Haji Ilyas—salah satu tokoh sentral penerus pesantren—mengizinkan adiknya, Kiai Haji Abdullah Sajjad, mendirikan pesantren baru di sisi timur rumah beliau. Pesantren baru tersebut kemudian dikenal dengan nama Latee, yang menandai lahirnya sistem federasi daerah pesantren Annuqayah.

Seiring berjalannya waktu, jumlah santri terus bertambah. Pesantren Annuqayah tidak hanya menjadi tujuan para santri dari Pulau Madura, melainkan juga dari berbagai daerah di Nusantara. Untuk mengakomodasi perkembangan ini, struktur pesantren berkembang menjadi 19 unit daerah pesantren yang bersifat mandiri, namun tetap berada dalam satu sistem nilai yang sama, yaitu nilai-nilai Annuqayah.

Awal Pendidikan Sekolah dan Lahirnya MA 1 Annuqayah

Transformasi pendidikan formal di Annuqayah dimulai pada tahun 1933, ketika Kiai Haji Khazin Ilyas, sepulang dari Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, merintis sistem pendidikan berbasis madrasah. Saat itu, sistem yang dibangun masih sangat sederhana, yaitu tiga kelas dengan kurikulum setara kelas satu Madrasah Tsanawiyah.

Langkah awal tersebut menjadi fondasi penting bagi pengembangan pendidikan formal di lingkungan pesantren. Perubahan besar kemudian datang dari Kiai Haji Mahfoudh Husaini, menantu dari Kiai Haji Abdullah Sajjad, yang pada tahun 1951 menggagas transformasi sistem pendidikan salafiyah menjadi pendidikan formal. Beliau mendirikan Madrasah Tsanawiyah Annuqayah sebagai bentuk konkret dari gagasan tersebut.

Pada tahun-tahun berikutnya, pendidikan formal di Annuqayah mengalami penyempurnaan. Di bawah kepemimpinan Kiai Haji M. Amir Ilyas, Madrasah Tsanawiyah berkembang menjadi Madrasah Muallimin IV Tahun, kemudian menjadi Muallimin VI Tahun pada tahun 1967. Namun, seiring dengan tuntutan regulasi nasional, pada tahun 1979 sistem pendidikan disesuaikan kembali.

Tahun 1979 menjadi titik penting dalam sejarah pendidikan formal di Annuqayah. Pada tahun tersebut, secara resmi didirikan tiga jenjang pendidikan yang terstruktur:

  1. Madrasah Ibtidaiyah (MI)
  2. Madrasah Tsanawiyah (MTs)
  3. Madrasah Aliyah (MA)

Dari struktur inilah, Madrasah Aliyah 1 Annuqayah (MA 1 Annuqayah) lahir dan menjadi lembaga pendidikan tingkat menengah atas di lingkungan pesantren. MA 1 Annuqayah tidak hanya berperan sebagai institusi pendidikan formal, tetapi juga menjadi perwujudan semangat intelektual dan spiritual pesantren—mengintegrasikan pelajaran umum berbasis kurikulum Kementerian Agama dengan pelajaran kitab kuning khas tradisi pesantren.

MA 1 Annuqayah dalam Dinamika Pendidikan Pesantren

Seiring perkembangan waktu, MA 1 Annuqayah tumbuh menjadi bagian integral dari sistem pendidikan yang lebih luas di lingkungan Annuqayah. Pada tahun 1984, didirikan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTIA), yang kemudian berkembang menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Annuqayah (STISA), lalu menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Annuqayah (STITA), dan akhirnya menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Keislaman Annuqayah (STIKA).

Di samping pendidikan formal, Annuqayah tetap mempertahankan pendidikan nonformal melalui pengajian kitab kuning, sistem wetonan, sorogan, dan madrasah diniyah yang tersebar di seluruh unit daerah pesantren. Hal ini menjadikan Annuqayah sebagai ekosistem pendidikan yang menyeluruh—menggabungkan nilai-nilai tradisional salafiyah dengan sistem pendidikan modern.

Madrasah Aliyah 1 Annuqayah bukan sekadar lembaga pendidikan formal. Ia adalah simbol perjalanan panjang keilmuan, visi besar para kiai, serta bentuk adaptasi pesantren terhadap perkembangan zaman. Lahir dari rahim Pondok Pesantren Annuqayah yang telah berdiri sejak tahun 1887, MA 1 Annuqayah hari ini menjelma menjadi lembaga pendidikan unggulan yang senantiasa menjaga keseimbangan antara ilmu dunia dan ilmu akhirat.