
Guluk-Guluk, MASA.SCH.ID
Focus Group Discussion (FGD) Review Kurikulum Satuan Pendidikan (Satpen) Yayasan Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep menghasilkan sejumlah catatan penting sebagai bahan perbaikan dan penyempurnaan kurikulum di seluruh jenjang pendidikan, Kamis (30/05/2026) di Aula KH. Abdul Basith AS Universitas Annuqayah.
Kegiatan ini melibatkan berbagai perwakilan lembaga mulai dari TK hingga MA dan SMK di lingkungan Satuan Pendidikan Yayasan Annuqayah.
Dalam forum tersebut, masing-masing satuan pendidikan menyampaikan evaluasi terkait implementasi kurikulum yang selama ini dijalankan.
MI 1 Annuqayah, misalnya, menyoroti padatnya materi yang dirasa kurang sesuai dengan kemampuan siswa.
“Materi agama ditargetkan bisa khatam dalam satu tahun, namun realitasnya siswa belum mampu mengikutinya,” ungkap Bapak Umar Hakim Waka Kurikulum MI 1 Annuqayah.
Sementara itu, MI 3 Annuqayah menyampaikan bahwa tidak ada kendala berarti dalam penerapan kurikulum yang berjalan saat ini.
Berbeda dengan MTs 1 Annuqayah yang menyoroti adanya empat mata pelajaran terdampak akibat padatnya materi, yaitu Prakarya, Informatika, Penjaskes, dan Bahasa Madura.
“Selain itu, belum ada regulasi yang jelas terkait muatan kurikulum, dan kami juga menghadapi persoalan siswa yang kurang fokus saat pembelajaran,” ujar Bapak Adnan Hariswanto Waka Kurikulum MTs 1 Annuqayah.
Dari MTs 1 Putri Annuqayah, muncul berbagai persoalan seperti keterbatasan waktu pembelajaran, lemahnya kemampuan dasar siswa dalam baca tulis Arab, hingga ketidaksesuaian waktu kehadiran guru.
“Kami berupaya mengatasi hal ini dengan program baca tulis Arab yang dikoordinir wali kelas,” jelas Bapak Ismail Waka Kurikulum MTs 1 Putri Annuqayah.
MTs 2 Annuqayah juga menyoroti ketidaksesuaian antara penilaian dalam rapor dan materi yang diajarkan di lapangan.
Selain itu, ditemukan pula sejumlah siswa yang belum memiliki kemampuan dasar bahasa Arab dan Inggris.
“Guru bahasa di Annuqayah bahkan harus menyusun modul sendiri untuk menyesuaikan kebutuhan siswa,” kata Bapak Fathorrahman Waka Kurikulum MTs 2 Annuqayah.
Sementara itu, MA 1 Annuqayah menilai materi yang terlalu padat perlu ditata ulang, termasuk pengurangan jam pelajaran dan penambahan jam olahraga.
“Integrasi antara kurikulum satpen dan pesantren menjadi hal penting, serta kesinambungan kurikulum antar jenjang harus diperhatikan,” ujar Bapak Abd. Aziz Waka Kurikulum MA 1 Annuqayah.
Hal senada juga disampaikan MA 1 Annuqayah Putri yang menyoroti padatnya materi, lemahnya kemampuan dasar siswa, serta perlunya peningkatan metode mengajar guru.
“Selain itu, kami juga masih menghadapi keterbatasan sarana seperti laboratorium,” ungkap Bapak Asy’ari Khatib Waka Kurikulum MA 1 Annuqayah Putri.
Di sisi lain, MA Tahfidh Annuqayah menyampaikan bahwa program pembelajaran lebih menyesuaikan kemampuan siswa dengan penekanan pada kitabiyah dan tahfidz secara bertahap.
Adapun SMA Annuqayah menegaskan fokus pada pengembangan sains dengan kurikulum Merdeka berbasis deep learning, meski menghadapi tantangan seperti lemahnya input siswa dan kelelahan peserta didik.
Pada sesi tanggapan, Dr. KH. Mohammad Hosnan menegaskan bahwa Profil Santri Annuqayah harus menjadi landasan utama dalam penyusunan kurikulum.
“Santri Annuqayah harus berwarna biru, seperti langit dan lautan, yang memiliki keluasan dan kedalaman ilmu,” tegasnya.
Senada dengan itu, Dr. H. Damanhuri menekankan pentingnya sinergi antara kurikulum nasional dan lokal.
“Muatan lokal harus tetap berbasis pada kitab-kitab pesantren sebagai ciri khas Annuqayah,” ujarnya.
Sementara itu, K. Ubaidillah Tsabit menekankan pentingnya kesamaan persepsi antar satuan pendidikan.
“Harus ada semangat bersama antara satpen dan tim dalam menyempurnakan kurikulum ini,” katanya.
Dengan berbagai masukan dan evaluasi yang disampaikan, FGD ini diharapkan menjadi langkah awal dalam merumuskan kurikulum yang lebih adaptif, integratif, dan sesuai dengan kebutuhan santri di lingkungan Satuan Pendidikan Yayasan Annuqayah.
Editor: Lukmanul Hakim





