Rihlah Ruhiyah MA 1 Annuqayah ke PP. Wali Songo Situbondo, Menimba Taujihat Penuh Makna

Guluk-Guluk, MASA.SCH.ID

Para guru dan civitas Madrasah Aliyah (MA) 1 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep melaksanakan kegiatan Rihlah Ruhiyah ke Pondok Pesantren Wali Songo Mimbaan, Panji, Situbondo, Jawa Timur.

Kegiatan ini menjadi ruang penguatan spiritual bagi para pendidik, sekaligus momentum berharga untuk menerima taujihat dan irsyadat penuh makna dari Pengasuh pesantren, KHR. Moh. Kholil As’ad Syamsul Arifin, yang disampaikan dalam suasana penuh khidmah dan kekhusyukan, Senin (16/02/2026).

Taujihat yang disampaikan Kiai Kholil As’ad terasa singkat, namun sarat dengan kedalaman makna yang menggugah. Dalam penyampaiannya, beliau dawuh dengan nada yang tenang namun berwibawa.

“Segala sesuatunya itu dimulai dari اقرأ dan diakhiri dengan واسجد واقترب,” jelasnya.

Dawuh tersebut diulang hingga dua kali. Kalimat sederhana, tetapi mengandung pesan fundamental tentang hakikat perjalanan hidup manusia, khususnya bagi insan pendidik.

Beliau menegaskan bahwa kehidupan, pengabdian, bahkan peradaban dimulai dari “iqra” membaca. Membaca bukan semata aktivitas intelektual, melainkan keterbukaan diri terhadap ilmu, hikmah, dan tanda-tanda kebesaran Allah.

Membaca realitas, membaca keadaan peserta didik, membaca dinamika zaman, dan membaca diri sendiri.

Iqra menjadi fondasi kesadaran. Dari membaca lahir pemahaman, dari pemahaman lahir kebijaksanaan. Tanpa membaca, seseorang mudah terjebak dalam rutinitas yang kering makna.

Namun, perjalanan itu tidak berhenti pada membaca. Kiai Kholil As’ad mengingatkan bahwa ujung dari seluruh ikhtiar manusia adalah “wasjud waqtarib” bersujud dan mendekat.

Sujud dimaknai sebagai puncak kepasrahan, titik tertinggi kerendahan hati seorang hamba di hadapan Sang Pencipta.

Dalam perspektif spiritual, ilmu yang tidak berujung pada sujud berpotensi melahirkan kesombongan. Sebaliknya, sujud tanpa ilmu mudah terjatuh pada formalitas tanpa kesadaran.

Pesan tersebut terasa relevan bagi para guru. Dunia pendidikan sering kali menuntut capaian administratif, target akademik, serta berbagai beban profesional. Di tengah tuntutan tersebut, ruh keikhlasan dan kesadaran transendental menjadi energi utama yang harus terus dirawat.

Beliau kemudian menutup mauidhahnya dengan lirih. “Semoga manfaat, semoga barokah. Al-Fatihah.”

Kalimat penutup itu menegaskan bahwa esensi dari setiap perjalanan spiritual adalah kebermanfaatan dan keberkahan. Tidak sekadar pengalaman, tetapi transformasi.

Para peserta Rihlah Ruhiyah merasakan bahwa dawuh singkat tersebut menjadi refleksi mendalam.

Banyak guru yang mengaku mendapatkan penguatan batin, terutama dalam memaknai kembali profesi sebagai ladang ibadah dan pengabdian.

“Rihlah Ruhiyah bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan maknawi, sebuah upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus memperdalam kesadaran akan nilai-nilai keilmuan dan keikhlasan dalam mendidik,” jelas Bpk. Khairul Umam salah satu peserta Raihlah Ruhiyah.

Kegiatan ini juga menjadi ruang silaturahmi spiritual antara lembaga pendidikan formal dan pesantren, dua entitas yang dalam tradisi pesantren selalu berjalan beriringan dalam membangun peradaban ilmu dan akhlak.

Rihlah Ruhiyah pada akhirnya menjadi pengingat bahwa guru bukan sekadar pengajar, melainkan pewaris nilai, pembimbing jiwa, dan penyalur cahaya ilmu.

Dan sebagaimana dawuh yang disampaikan Kiai Kholil As’ad, seluruh perjalanan itu selalu bermula dari membaca dan berpuncak pada sujud. Sebuah dawuh singkat, tetapi cukup untuk menjadi bekal perjalanan panjang manusia.

Editor: Lukmanul Hakim

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *